Para Uskup AS Mendesak Obama Untuk Kelanjutan Perundingan Israel-Palestina

Uskup-AS-dibelakang-Obama-1967-borders

Propetik.com, 20 April 2011 WIB. Para Uskup Katolik AS telah bergabung dengan beberapa pemimpin agama dari kelompok Kristen, Yahudi, dan Muslim mendesak presiden dan menteri luar negeri AS untuk mendorong  peluang baru bagi perundingan perdamaian antara Israel dan Palestina. Dengan mengusulkan penggunaan dasar perbatasan Pra-1967.

“Kami percaya bahwa inisiatif perdamaian Israel, Inisiatif Perdamaian Arab sebelumnya, dan Kesepakatan Jenewa, diambil bersama-sama, menawarkan prinsip dan ide-ide untuk negosiasi untuk mencapai perdamaian Arab-Israel-Palestina yang komprehensif. ” kata para uskup dan pemimpin lainnya dalam surat tertanggal April 14 kepada Presiden Barack Obama dan Menteri Luar Negeri Hilary Clinton di Washington.

Sebuah grup yang terdiri dari mantan pejabat Israel, intelijen, dan pejabat keamanan baru-baru ini mengajukan proposal untuk menciptakan sebuah negara Palestina di Tepi Barat dan Gaza menurut perbatasan Israel (Pra Perang) 1967. Ini juga akan memungkinkan Israel dan Palestina untuk berbagi kontrol Yerusalem, dan memungkinkan bagi kembalinya pengungsi Palestina sesuai dengan perjanjian kesepakatan antara kedua belah pihak.

Di antara penandatangan adalah  Kardinal Theodore McCarrick, mantan Uskup Agung Washington DC, dan Uskup Howard J. Hubbard, ketua komite para uskup untuk “Keadilan dan Perdamaian”. Beberapa ulama Muslim dan rabi Yahudi, sebagian besar dari denominasi reformasi, juga memberikan dukungan mereka.

“Kami percaya bahwa Amerika Serikat … harus mendukung elemen-elemen yang dibahas dalam negosiasi secara mendesak,” kata para pemimpin agama Presiden Obama. “Selain itu, perhatian khusus bagi masyarakat kita adalah jaminan untuk akses bebas ke tempat-tempat suci Yahudi, Kristen dan Muslim.”

“Kami mendorong Anda untuk segera mengunjungi Yerusalem dan wilayah untuk bertemu dengan para pemimpin Israel dan Palestina untuk membahas langkah-langkah selanjutnya untuk mencapai perdamaian berdasarkan prinsip-prinsip dan ide-ide dalam prakarsa perdamaian.”

Presiden Obama mengejar rencana untuk mendamaikan Israel dan Palestina selama tahun 2010, bekerja sama dengan “kuartet” yang mencakup PBB, Uni Eropa, dan Rusia. Namun, perundingan itu terhenti pada bulan September 2010 ketika moratorium permukiman Yahudi habis dan tidak diperpanjang.

Ketegangan meningkat ketika radikal Palestina membantai sebuah keluarga pemukim Yahudi pada Maret 2011. Kekerasan besar-besaran telah meletus sejak insiden itu. Serangan udara Israel dan penembakan menewaskan sembilan warga Palestina, setidaknya empat di antaranya dilaporkan warga sipil, di Jalur Gaza pada 22 Maret. Keesokan harinya, sebuah serangan bom menewaskan seorang wanita di distrik Yahudi tengah Yerusalem.

Pihak Palestina (Hamas) juga telah mengintensifkan serangan roket mereka terhadap Israel, yang belum pernah sama sekali berhenti sejak perang Gaza 2009.

sumber:

http://www.catholicnewsagency.com/news/us-bishops-join-call-for-new-middle-east-peace-talks/