Obama : Israel-Palestina Kembali ke Perbatasan Pra-1967

Obama-speach-1967-borders

Propetik.com – Jumat, 20 Mei 2011 WIB (May 19, 2011 ET) Presiden AS Barack Obama mengatakan Amerika Serikat telah membuka “babak baru” dalam diplomasi setelah Musim Semi Kebangkitan bangsa-bangsa Arab. Termasuk di dalamnya kebijakan kontroversial kembali ke batas Pra-1967 bagi Israel.

Dalam pidato di departemen luar negeri, Obama mengatakan masa depan AS terkait erat dengan dengan kekuatan ekonomi, keamanan, sejarah dan nasib Timur Tengah.

“Ini akan menjadi kebijakan AS untuk mempromosikan reformasi, dan untuk mendukung transisi menuju demokrasi,” katanya.

Pidato ini adalah respon pertama yang komprehensif dari Obama terkait revolusi “Arab Spring” yang melanda dunia Arab, kata para analis.

“Kami menghadapi kesempatan bersejarah,” katanya. “Kami memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa Amerika menghargai martabat seorang pedagang jalanan di Tunisia lebih dari kekuatan baku sang diktator.”

Obama menjelaskan dasar kebijakannya, “Karena orang Amerika telah dibakar oleh penyanderaan, retorika kekerasan, dan serangan teroris yang menewaskan ribuan warga kami – kegagalan untuk mengubah pendekatan kita [di Timur Tengah] mengancam memperdalam spiral perpecahan antara Amerika Serikat dan masyarakat Muslim, ”

Kunci poin dalam pidato Obama:

Dalam beberapa bulan ke depan AS harus menggunakan semua sumber dayanya untuk mendorong reformasi di Afrika Utara dan Timur Tengah

Akan memotong $ 1 miliar dari utang untuk Mesir yang demokratis dan bekerja untuk menciptakan Dana Enterprise untuk berinvestasi di Tunisia dan Mesir

Presiden Suriah Bashar al-Assad harus memimpin transisi politik atau “keluar dari jalan”

AS akan terus mendesak: rakyat Iran layak dengan hak-hak universal mereka, dan pemerintah tidak menutupi aspirasi mereka.

Penangkapan masal dan kekerasan di Bahrain bertentangan dengan hak-hak universal warga Bahrain.

Perbatasan Israel dan negara Palestina harus didasarkan pada perbatasan pra-1967 dengan pertukaran yang disepakati.

Dalam soal perbatasan Israel-Palestina, pemerintah Israel langsung protes, mengatakan bahwa bagi Israel untuk kembali ke perbatasan pra-1967 adalah “tidak dapat dipertahankan.” Netanyahu dikabarkan mengadakan pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton dengan nada marah pada hari Kamis sebelum pidato Obama, kata para pejabat. Netanyahu menuntut bahwa referensi pidato presiden Obama tentang perbatasan tahun 1967 dipotong.

Para pejabat Israel terus melobi pemerintah AS sampai tepat sebelum Obama tiba di Departemen Luar Negeri untuk menyampaikan pidatonya. Para pejabat Gedung Putih mengatakan mereka tidak mengubah apa pun di bawah tekanan Israel, meskipun presiden membuat perubahan dalam teks hingga tertunda penampilannya sampai 35 menit.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan keesokan harinya setelah pidato Obama, Netanyahu mengatakan kembali ke perbatasan pra-1967 akan membahayakan keamanan Israel dan meninggalkan pemukiman utama Yahudi di Yudea dan Samaria (Tepi Barat) di luar wilayah Israel. Obama memang dijadwalkan akan bertemu Netanyahu pada hari Jumat (20/5) di Washington.

The New York Times menyatakan bahwa pernyataan Obama ini mewakili pergeseran signifikan dalam kebijakan Amerika. Dan itu mendorong Obama ke sengketa wilayah paling sengit dalam sejarah.

 

sumber:

http://www.nytimes.com/2011/05/20/world/middleeast/20speech.html?pagewanted=all&_r=0

http://www.bbc.co.uk/news/world-us-canada-13450481